Ternyata Bukan Shalahuddin Al Ayyubi yang Memperingati Maulid Nabi Secara Besar-besaran

GuruMuda.web.id – Raja Abu Sa’id Mudzoffar (ipar Sultan Shalahuddin Yusuf Al Ayyubi)  adalah orang pertama yang memperingati Maulid Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam secara besar-besaran.

Walaupun raja yang memerintah Kerajaan Arbil (Arbelles), sebelah timur Mosul, Irak, itu sehari-harinya hidup sederhana, ia tidak segan-segan mengeluarkan sampai 300 ribu dinar (1 dinar= 2.038.409, jika 300.000 x 2.038.409 = 611.522.700.000 alias enam ratus miliar lebih) ketika itu, demi  memperingati Maulid Nabi.

Pembacaan Kitab Maulid Adhiyau Lami (17/01/2013) dok. pribadi

Arbil, kerajaan yang tegolong kecil, pernah diserbu Raja Mongolia, Zengis Khan. Raja Mudzoffar membayangkan, apabila rakyat tidak memiliki ketahanan mental yang tinggi, tentu mereka akan menjadi keganasan nafsu ekspansionisme.

Pada saat semangat rakyat melemah, Raja menemukan gagasan untuk membangkitkannya kembali dengan mengungkapkan riwayat kehidupan Nabi Muhamma shalallahu ‘alaihi wa sallam yang penuh heroisme dan patriotisme dalam menengakkan kebenaran, serta melindungi hak kaum lemah dan golongan tertindas.

Kajian mengenai hidup dan  kehidupan Nabi itu ternyata mampu membangun kembali semangat rakyat serta menumbuhkan ketahanan nasional yang tinggi. Sehingga, Zengis Khan tidak berhasil menundukkan kerjaan kecil itu.

Gagasan Raja Mudzoffar yang kemudian digunakan oleh Sultan Shalahuddin Yusuf Al Ayyubi (1174-1193 Masehi atau 570 – 590 Hijriah) dari Dinasti Bani Ayyub, untuk membangkitkan semangat rakyat dalam Perang Salib, yang cukup lama.

Saat itu, dunia Islam sedang mendapat gelombang serangan dari berbagai bangsa Eropa: Prancis, Jerman dan Inggris.

Awalnya, gagasan Shalahuddin ditentang oleh para ulama. Sebab sejak zaman Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, peringatan seperti itu tidsak pernah ada. Lagi pula, hari raya resmi menurut ajaran agama Cuma ada dua, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.

Akan tetapi, Shalahuddin menegaskan, perayaan Maulid Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam hanyalah kegiatan yang menyemarakkan syi’ar agama, bukan perayaan yang bersifat ritual, sehingga tidak dapat dikategorikan bid’ah.

Ketika Shalahuddin meminta persetujuan dari Khalifah An Nashr di Baghdad, ternyata khalifah setuju. Maka, pada ibadah haji bulan Dzulhijjah 579 Hijriah (1183 M), Sultan Shalahuddin Al Ayyubi, sebagai penguasa Haramain (dua tanah Suci: Makkah dan Madinah).

Khalifah An Nashr mengimbau kepada seluruh jamaah haji agar, jika kembali ke tanah air masing-masing, segera menyosialisasikan kepada umat Islam bahwa, mulai tahun 580 Hijriah atau 1184 Masehi, tanggal 12 Rabbi’ul Awwal merupakan hari perayaan Maulid Nabi shalallahu ‘alaihi wwa sallam, dengan bebagai kegiatan yang membangkitkan semangat umat Islam.

Salah satu kegiatan yang diadakan oleh Sultan Shalahuddin pada peringatan Maulid  Nabi shalallahu’ laiahi wa sallam yang pertama adalah menyelenggarakan sayembara penulisan riwayat beserta puji-pujian bagi Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan bahasa seindah mungkin.

Seluruh ulama dan sastrawan diundang untuk mengikuti kompetisi tersebut. Pemenangnya adalah Syaikh Ja’far Barzanji. Karyanya yang dikenal sebagai Kitab Barzanji sampai sekarang sering dibaca umat Islam pada peringatan Maulid Nabi.

Mencintai Nabi dengan Membacakan riwayat kehidupannya.
Peringatan Maulid Nabi di Kampung Lunjuk Girang (16/02/2014)

Ternyata, peringatan Maulid Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang diselenggarakan Sultan Shalahuddin Al Ayyubi itu membuahkan hasil yang memuaskan. Semangat umat Islam dalam Perang Salib bergelora kembali.

Pada tahun 583 Hijriah atau 1187 Masehi, Jerusalem bisa direbut oleh Shalahuddin dari tangan bangsa Eropa, dan Masjdil Aqsha kembalimenjadi tempat beribadah umat Isalm, sampai hari ini.

Jadi, mauludan bukanlah perayaan kelahiran biasa, tapi lebih daripada itu. Yakni, untuk mengingatkan kembali sikap dan perilaku Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Sikap dan perilaku tersebut tidak sekadar untuk diketahui, namun juga dicontoh, dihayati, dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. (Dari beberapa artikel yang pernah dibaca)

Muqoddimah Kitab Syi’rul Hisan

GuruMuda.web.id – Malam Jum’at memang rutinitas saya dan anak-anak mengisi malam penuh berkah ini dengan istighosah wa sholawah. Juga pembacaan sirah nabi dalam Kitab...
Guru Muda
1 min read

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: