Rindu atas nama Cinta

Menulis puisi bisa dimana saja, selama inspirasi itu dicatat dengan baik, maka akan lahirlah puisi yang indah.
Salah satunya Puisi “Rindu Atas Nama Cinta” ini, yang saya tulis di dalam angkutan umum jurusan Kadungora – Garut

Berkelana
Setapak demi setapak
menuju puncaknya Cinta

Membuncah
Bergetar
Hampir saja pecah
Aku sudah tak kuat

Kemana aku akan dibawa
Aku bukan wali apalagi nabi
aku hanya pendosa yang ingin suci

– di Angkot Jurusan Kadungora – Garut
24 Agusutus 2013

Buih Kerinduan

kutuangkan buihan kerinduan inipena dan kertas menjadi wasilahnyarindu tak terperi selalu menyayatselalu sakit belum bertemu duhai engkaukapankah aku bisa bersuatanpa ada yang mengganggutanpa sekat...
Guru Muda
11 sec read

Sang Pecinta

Wahai engkau yang mencari cinta … Cari Cintamu di setiap sudut-sudutmuBuang Cintamu yang sebenarnya tak engkau milikiCinta yang hampaCinta yang tak memiliki artiCinta yang...
Guru Muda
11 sec read

Percikan Cinta

Lama kukumpulkan percikan cinta
Guru Muda
0 sec read

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: