Ketika Daffa Memelukku

GURUMUDA.WEB.ID – – DIANTARA ratusan siswa IQRO, ia duduk di shaf paling depan dengan kopiah dan gamis serba putih. Ketika kusebutkan namanya, ia langsung berdiri dan maju ke depan. Berkumpul dengan sembilan anak-anak yang kusebutkan sebelumnya.


Kalau saja ketua yayasan tidak menyuruhku untuk medata anak yatim piatu binaan Lembaga Pendidikan IQRO, bisa jadi saja aku tak mengenal anak itu. Ketua yayasan memintaku untuk mendata sepuluh anak-anak yang tak beribu bapak.

Tak kuasa aku menahan tangis bila berhadapan dengan mereka yang tak beribu bapak.
Diantara mereka, Daffa Harsya, kelas 2 MI (sederajat SD), ia piatu – sudah tak beibu -. Ketika aku tanya, “Apakah kau rindu dengan ibumu, Nak?”
Ia tak menjawab. Hanya bisa memelukku. Mencari perlindungan. Mencari kehangatan seorang ibu. Aku yang tepat di sampingnya menjadi pusat pelampiasan kerinduan pada ibunya. Ia hanya bisa menangis sejadi-jadinya. Sungguh, begitu kuat pelukannya padaku menandakan ia sangat rindu dengan ibunya.
Aku hanya bisa mengelus, menenangkannya. Entah apa yang ada di benak Daffa. Yang pasti aku begitu merasakan ia ingin ibunya kembali. Memeluknya. Menyuapinya. Mengantarkannya ke sekolah. Meskipun hal itu tak akan pernah terjadi.
“Daffa ingin ibu!” begitu kuat yang aku rasakan dalam kontak bathiniyah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: