Ketika Bu Sonia Selingkuh

Meskipun menulis cerpen tidak sesering dengan menulis nonfiksi, cerpen yang saya tulis berjudul “Ketika Bu Sonia Berselingkuh” ini“ terinspirasi dengan fenomena dari beberapa informasi yang cukup viral. Salah satunya adalah selingkuh.

Bagimana kisahnya?

Silakan baca, dan kasih komentar juga…

***

Dulu kumaafkan. Tapi untuk kali ini, dengan berat hati, kita CERAI!” gertak laki-laki berkumis mengagetkan aku dan dua guru lainnya yang sedang memeriksa hasil ujian akhir semester.  Segera ia pergi tanpa salam seperti biasanya.

Baru kali ini aku melihat sosok yang santun, berubah menjadi begitu amarah dari seorang Pak Burhan, kepala sekolah dimana aku mengajar. Perempuan berkerudung berumur 30 tahunan yang tepat duduk di sampingku itu hanya hanya bisa menangis pasrah. Bu Sonia, guru kelas III.

Ia adalah isteri Pak Burhan.  Ia semakin terisak, namun ia juga tahu ada empat masang mata sedang menatap ke arahnya.

Aku dan Bu Sri tak berani menanyakan alasan kenapa Pak burhan dengan mudahnya melontarkan kata-kata  yang dibenci Allah itu. Kami hanya melihat Bu Sonia iba.

“Saya selingkuh…”  singkat Bu Sonia.

Aku dan Bu Sri beradu mata dan kompak mengernyitkan kening.

“Kenapa bisa, Bu?” Tanya Bu Sri semakin mengerutkan keningnya.

Aku juga Bu Sri tahu tipikal Bu Sonia itu seperti apa. Tak mungkin ia begitu tega mengkhianti lelaki yang menjadi  teladan bagi para guru, terlebih bagi Bu Sonia sebagai imam keluarga.

“Utang saya sepuluh juta. Saya meminjam dari tabungan anak-anak,” jawab Bu Sonia yang tergesa merapikan buku.

Apa? Meminjam

Meskipun menulis cerpen tidak sesering dengan menulis nonfiksi, cerpen yang saya tulis berjudul “Ketika Bu Sonia Berselingkuh” ini“ terinspirasi dengan fenomena dari beberapa informasi yang cukup viral. Salah satunya adalah selingkuh.

Bagimana kisahnya?

Silakan baca, dan kasih komentar juga…


***

Dulu kumaafkan. Tapi untuk kali ini, dengan berat hati, kita CERAI!” gertak laki-laki berkumis mengagetkan aku dan dua guru lainnya yang sedang memeriksa hasil ujian akhir semester.  Segera ia pergi tanpa salam seperti biasanya.

Baru kali ini aku melihat sosok yang santun, berubah menjadi begitu amarah dari seorang Pak Burhan, kepala sekolah dimana aku mengajar. Perempuan berkerudung berumur 30 tahunan yang tepat duduk di sampingku itu hanya hanya bisa menangis pasrah. Bu Sonia, guru kelas III.

Ia adalah isteri Pak Burhan.  Ia semakin terisak, namun ia juga tahu ada empat masang mata sedang menatap ke arahnya.

Aku dan Bu Sri tak berani menanyakan alasan kenapa Pak burhan dengan mudahnya melontarkan kata-kata  yang dibenci Allah itu. Kami hanya melihat Bu Sonia iba.

“Saya selingkuh…”  singkat Bu Sonia.

Aku dan Bu Sri beradu mata dan kompak mengernyitkan kening.

“Kenapa bisa, Bu?” Tanya Bu Sri semakin mengerutkan keningnya.

Aku juga Bu Sri tahu tipikal Bu Sonia itu seperti apa. Tak mungkin ia begitu tega mengkhianti lelaki yang menjadi  teladan bagi para guru, terlebih bagi Bu Sonia sebagai imam keluarga.

“Utang saya sepuluh juta. Saya meminjam dari tabungan anak-anak,” jawab Bu Sonia yang tergesa merapikan buku.

Apa? Meminjam tabungan siswa? Sampai sepuluh juta pula.

“Saya berselingkuh bukan mengkhianati cinta bapak. Saya meminjam uang tabungan sekolah tanpa sepengetahuan bapak. Saya selingkuh kepercayaan.” tambahnya.

Kata Bu Sonia, ini bukan yang pertama. Ia terpaksa melakukan itu karena nafkah yang diberikan suaminya tak cukup untuk biaya keluarga. Ia sangat mengerti dengan penghasilan Pak Burhan sebagai guru honorer merangkap kepala sekolah swasta itu jauh dari biaya hidup sehari-hari.

Bu Sonia pergi, meninggalkan kami yang masing tematung. Tak percaya.

***

Tulisan Fiksi Edukasi ini pernah saya publish di blog saya sebelumnya gurumuda.info (udah expired) pada tanggal 31 Desember 2012

Surat Cinta untuk Guru

Guru Muda
1 min read

Masjidku Terkatung-katung

PUISI GURU MUDA – Kokohnya Masjid Arwam Bab ArRahman tak lagi tampak setelah diguncang gempa bumi dan tsunami yang hebat pada Jumat, 28 September...
Guru Muda
28 sec read

Semalam Bersama Rasul

Semalam Bersama RasulIndahTerlalu indah bahkanMalam tadi aku mencoba mengirim setitik salamLima belas ribu bersilaDi atas sajadah lusuh TerpejamLebih dalam mengarungi keindahan cintaDalam gumpalan salawat...
Guru Muda
7 sec read

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: