Do’anya Kudengar di Arsy

Mempunyai keturunan yang shaleh menjadi dambaan setiap orang tua. Apa pun metode yang mendukung akhlak yang lebih baik pasti akan dikejarnya. Inilah rintihan dari seorang ibu, Khadijah, biasa dipanggil mak Ijah.
Tiap ba’da shalat, lantunan do’a menjadi cemilan pribadi yang dikhususkan untuk anak-anaknya. Do’a agar mempunyai dzurriyah yang selalu menanamkan aturan agama pada pribadinya. Namun, Allah lah yang Maha Berkehendak. Dari 11 anak hasil pernikahan dengan Abdul Karim, ternyata belum semua yang bisa memenuhi apa yang ia azamkan. “Adakah dari keturunanku menjadi seorang ulama?” batinnya sering bertanya.

Semua anaknya memang pernah mengenyam pendidikan pesantren. Tapi tak semua yang ia harapkan. Mereka lebih memilih menjadi pengusaha, pembimbing travel haji, ketimbang jadi Kyai. Kebanyakan dari mereka memang sukses, tapi kesuksesannya belum cukup mengobati impian sang ibu agar anaknya menjadi pewaris para nabi.
Namun ada secercah harapan bagi Mak Ijah. Ketika di suatu malam, ia pernah bermimpi. Melihat putra bungsunya, Muhammad Nawawi menjadi imam shalat. Tampak dengan jelas Mak Ijah dan ratusan masyarakat Kampung Hegarmanah ada dibelakang Nawawi sebagai makmum.
“Apakah ini tanda do’aku diijabah?” batinnya mencari jawaban.
Muhammad Nawawi, sebuah nama pemberian kakeknya, Abdul Ghani, tokoh masyarakat yang disegani di Kampung Hegarmanah. Kyai kampung yang mukhlis, menjadi teladan bagi keluarga juga kampungnya. Tak beralasan menamakan putra bungsu Khadijah dan Abdul Karim ini. Yang ia tahu, Imam Nawawi adalah ulama ahli ilmu fiqih dari Banten yang wafat di Makkah. Menjadi rujukan para ulama sezamannya. Sebagai tafaul ngalap berkah, semoga kelak Nawawi kecil bisa menjadi seorang yang ahli dalam dalam bidang fiqih seprti Syaikh Nawawi Al Bantani. Itulah sebab kakeknya menamakan Muhammad Nawawi.
Nawawi masih berumur tiga belas tahun, duduk di madrasah kelas  satu MTs An-Nur sambil pesantren di tempat yang sama, di bawah asuhan KH. Ghazali Mabruk.
Otak yang cekatan juga ada darah dari seorang kyai, tak aneh bila Nawawi dijuluki Fathul Qarib berjalan, sebuah kitab ilmu fiqih yang telah dihafalnya dengan waktu yang relatif singkat, dua bulan. Lalu kitab Alfiyah Ibn Malik yang ia talar kurang dari sebulan.
***
Kini Nawawi kecil itu sudah tumbuh menjadi remaja tampan. Tidak putih namun manis, lesung pipinya menjadi daya tarik bila orang melihatnya. Perangainya bersahaya namun berwibawa. Sengaja ia membiarkan jenggotnya tumbuh demi sunah nabi.
Dua belas tahun rasanya cukup untuk meneguk ilmu dari beberapa ulama di Pulau Jawa dan Madura. Sanad ilmu yang sampai kepada Baginda Rasul SAW telah ia terima dengan pengijazahan yang resmi dari beberapa gurunya, wa bil khusus dari Kyai Muhyiddin, yang masih keturunan Syaikh Muhyi Pamijahan, Tasikmalaya.
Selepas di Madrasah Tsanawiah, sengaja ia memilih jalur fokus pada pesantren, tanpa ikut sama orang lain yang sekolah formal. Maka, dari pesantren satu ke pesantren lain ia singgahi.
Sekarang ia berniat untuk bermukim saja, seraya mencari untuk pasangan hidup. Namun niatnya ditahan oleh Kyai Muhyiddin.
“Sebelum kamu bermukim, hendaknya kamu menjalani tirakat ini!” titah Kyai sambil menjelaskan apa saja yang harus dikerjakannya.
Puasa mutih, puasa tanpa makan yang berminyak atau bernyawa selama empat puluh hari. Malam harinya harus terjaga, dengan mengamalkan beberapa aurad, hijib, ratib dan lainnya. Meskipun agak berat, ia lakoni dengan ikhlas.
Di malam terakhir, antar terjaga dan tidak. Ketika manisnya dzikir ia kecap, Nawawi seakan sedang berada di awang-awang.  Ia tak sendiri, ada puluhan yang berpakaian putih seperti dirinya yang masing-masing di damping oleh dua cahaya. Ia melihat bumi sangat kecil sekali, seperti kelereng yang sering ia mainkan sewaktu kecil. Lalu ia menatap lukisan kaligrafi indah yang belum ia lihat sebelumnya, lafadz bertuliskan “Arsy”. Nawawi mencoba menyembunyikan rasa kepenasarannya. Tak lepas ia bertasbih.
Nawawi dikumpulkan bersama yang lain di sebuah lapangan tanpa batas. Masing-masing diberi layar seperti layar tancap. Dilihatnya di layar itu kehidupan Nawawi sewaktu kecil, mulai dari ia dilahirkan, sampai sebab kematian kakeknya. Perjalanan kakak-kakaknya yang telah sukses. Terakhir ia melihat wanita separuh baya, sedang merintih dalam munajatnya. Tak salah lagi, ia adalah emaknya.
“Ya Allah Yang Maha Pemurah
Ya Allah Ya Sami’u Du’a
Yang tak pernah menolak permohonan hamba-hamba
Yang tak pernah ingkar pada janji-Nya
Perkenankanlah keturunanku menjadi pewaris Nabi-Mu
Jadikanlah Nawawiku menjadi pejuang agama
Penerus salafaus salih…”
Nawawi seakan tak percaya dengan apa yang disaksikannya. Tampak wajah berkeriput, yang pipinya mengalir mutiara bening, sedang mendo’akannya. Nawawi hanya bisa mengamini do’a emaknya di bumi.
Keringat panas dingin keluar setelah ia benar-benar sadar dari apa yang telah ia alami. Ketika hendak menceritakan kejadian malam kepada gurunya, Kyai Muhyiddin hanya mengangguk.
“Jangan kau ceritakan pada orang lain! Kini aku ikhlaskan kamu untuk bermukim.” Perintah Kyai sebagai tanda Nawawi telah menyelesaikan hasil tirakatnya.
Di rumah, Mak Ijah sengaja memberitahu anak-anaknya dan mengundang tetangga untuk menyambut Nawawi. Dengan menyelenggarakan syukuran yang istimewa. Mak Ijah tersenyum bangga, inilah keturuanku yang kuimpikan. 
Garut, 27 Juli 2012

22.50 WIB

Sumber Gambar: DI SINI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: