Blusukan ke Kampung Pataruman

GURUMUDA.WEB.ID – Pataruman, salah satu kampung di wilayah Desa Talagasari, Kecamatan Kadungora, Garut. Sebuah kampung yang memiliki sejarah panjang jika dikaitkan dengan jaman penjajahan atau gerombolan.

Gapura Selamat Datang Kampung Pataruman


Malam ini, lepas ratiban dan shalawatan yang menjadi rutinitas mengisi jadwal santri di malam Jum’at, saya menyambangi Kampung Pataruman yang berbatasan dengan kampung Cihaur. Sekedar bersilaturahim sama orangtuanya anak-anak santri.

Malam Jum’at diisi dengan Ratiban dan Istighasah Shalawat

Baru kali ini blusukan malam-malam di kampung dulunya sebagai basis pertarungan pribumi dan penjajah. Karena biasanya saya jambangi orang tua santri yang ada di Kampung Lunjuk Girang.


Saya maklumi ketika kedatangan saya disambut dengan kekagetan penuh tanya oleh orang tua santri. 

Wajar karena ini pertama kalinya mengunjungi rumah anak-anak. Tanpa ada pemberitahuan sebelumnya.

Saya awali mengunjungi rumah orang tua Sandi. 

“Assalamu’alaikum…”

Baru dapat jawaban salam ketiga kalinya. Saya yakin penghuni rumah ada.

Yang membuka pintu Sandi. Saya mencoba untuk tidak memperlihatkan bahwa saya tahu santri ini cukup kaget dengan kedatangan saya. Berhubung hampir sebulan ini Sandi tak lagi mengaji. Ia langsung kabur ke kamarnya.

Bapak,ibu dan adik Sandi tak kalah kaget. Mereka langsung mempersiapkan karpet untuk saya duduki. Ayahnya yang sedang menonton pertandingan antara PERSIB vs PBFC langsung mempersilakan.

“Silakan, A, duduk!”

Tidak ada obrolan yang sangat serius yang saya awali. Pun dengan orang tuanya. Tampaknya mereka masih bingung, ada apa dengan kedatangan saya.

“Saya hanya ingin bersilaturahim, mumpung saya lagi nyantai.” saya mencoba untuk menjawab kebingungan mereka.

“Oh iya, A” singkat

Tak lama saya di sana. Karena harus menuju ke rumah santri yang lain. Dan saya pilih Agis. Si yatim yang cukup “plus” ini menjadi target blusukan saya selanjutnya.

Saya disambut langsung ibunya yang buruh tani. Sementara Agis di rumah neneknya, di samping rumahnya.

Seperti semula, kekagetan ibunya Agis dapat saya lihat. Pun alasan sama ketika berkunjung ke rumah orang tua Sandi. Hanya bersilaturahim saja.

Namun, obrolan dengan ibunya Agis begitu mengalir. Demi menghidupi sehari-hari, ibunya Agis rela menjadi pemulung sisa yang jatuh ke tanah, dari para petani yang sudah panen. Ia lakukan dari kampung ke kampung, bahkan lintas desa.

Dari blusukan malam ini, saya banyak sekali menemukan ilmu dan hikmah yang hanya saya rasakan. Setidaknya dengan tulisan ini saya merekam jejak secuil perjalanan indahnya bersilaturahim.

Fadil dan Kerupuk Kuning

GURUMUDA.WEB.ID – Ba’da Jum’at ada agenda musyawarah Kecamatan Bersholawat di Ponpes Tarbiyatul Athfal (Pangersan Ajengan Iom). Menunggu jemputan, saja janjian di warung es kelapa...
Guru Muda
34 sec read

KURIKULUM MANDIRI GURU MUDA

GURUMUDA.WEB.ID – Hebohnya isu Full Day School bikin marah bagi pemerhati pendidikan. Kebijakan sekolah selama lima hari yang direncanakan Pak Menteri dengan durasi delapan...
Guru Muda
53 sec read

Pak Roni Ayahku juga kan?

www.gurumuda.web.id – – – SEPERTI biasa, sebelum Ashar rumah saya selalu dikunjungi anak-anak kampung untuk mengaji. Rumah yang tak begitu luas dirasa cukup untuk...
Guru Muda
3 min read

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: